Mengapa di Indonesia Banyak Orang yang Melakukan Permainan Judi?

Indonesia  adalah negara yang penuh paradoks. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, dengan lebih dari 17.000 pulau, namun juga negara terpadat keempat di dunia, dengan lebih dari 270 juta orang. Ini adalah negara dengan beragam budaya, agama, dan bahasa, tetapi juga negara dengan hukum dan peraturan yang ketat. Ini adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, namun juga merupakan negara dengan kemiskinan dan kesenjangan yang luas.

Perjudian, dalam bentuk apa pun, adalah ilegal di Indonesia. Negara ini mengikuti hukum Syariah, yang melarang segala jenis perjudian sebagai dosa dan kejahatan. Siapa pun yang kedapatan berjudi dapat menghadapi hukuman berat, mulai dari denda dan penjara hingga hukuman cambuk dan hukuman mati. Pemerintah telah menindak aktivitas perjudian selama beberapa dekade, menggerebek kasino ilegal, memblokir situs perjudian online, dan menangkap penjudi dan operator.

Meskipun ada larangan, perjudian tetap menjadi hobi yang populer dan menguntungkan bagi banyak masyarakat Indonesia. Menurut laporan Global Betting and Gaming Consultants (GBGC), masyarakat Indonesia menghabiskan sekitar $127,5 miliar untuk perjudian online pada tahun 2020, menjadikannya pasar perjudian online terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Jumlah tersebut setara dengan 10% produk domestik bruto (PDB) negara tersebut, atau lebih besar dari gabungan PDB Kamboja, Laos, dan Myanmar.

Mengapa orang Indonesia banyak berjudi? Dan apa dampak dari industri bawah tanah yang masif ini?

Jawabannya tidak sederhana. Perjudian merupakan fenomena kompleks yang melibatkan faktor psikologis, sosial, ekonomi, dan budaya. Beberapa kemungkinan alasan mengapa orang Indonesia berjudi adalah:

  • Keingintahuan dan pencarian sensasi.  Perjudian menawarkan keseruan dan hiburan bagi orang-orang yang bosan atau tidak puas dengan kehidupannya. Hal ini juga memberikan tantangan dan rasa pencapaian bagi orang yang ingin menguji kemampuan dan keberuntungannya melawan orang lain atau melawan takdir.
  • Sosialisasi dan tekanan teman sebaya.  Perjudian dapat menjadi cara untuk menjalin ikatan dan berinteraksi dengan teman, keluarga, atau kolega. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh norma dan harapan kelompok sosial atau komunitas seseorang.
  • Melarikan diri dan mengatasinya.  Berjudi bisa menjadi cara untuk melepaskan diri dari stres, masalah, atau kenyataan. Ini juga bisa menjadi cara untuk mengatasi emosi negatif, seperti kecemasan, depresi, kemarahan, atau kesepian.
  • Kecanduan dan paksaan.  Berjudi bisa menjadi kebiasaan atau obsesi bagi sebagian orang yang mengembangkan ketergantungan psikologis terhadapnya. Mereka mungkin berjudi untuk mengejar kerugian, untuk meringankan gejala penarikan diri, atau untuk memuaskan dorongan yang tidak terkendali.
  • Kebutuhan dan peluang ekonomi.  Perjudian dapat menjadi cara untuk mendapatkan uang atau menambah penghasilan bagi orang-orang miskin atau pengangguran. Hal ini juga bisa menjadi cara untuk memanfaatkan peluang atau memanfaatkan celah dalam sistem.